Minggu, 19 Desember 2010


Bla..bla…bla..
Kucoba menepis rasa ini
Rasa yang tak bisa aku mengerti
Rasa yang tak lagi aku miliki
Dan kini hanya bisa kusesali
Aku tak tau ..
Mengapa harus kamu
Mengapa harus padamu
Aku pun tak tau...
Mengapa dulu ada kamu dihatiku
Hati ini pernah kau buka
Rindu ini pernah aku punya
Cinta ini pernah aku puja
Hanya untukmu..
Ingatkah ?
Pernah kita lalui hari-hari
Pernah kita saling memiliki
Pernah kuharap kaulah cinta sejati
Masih adakah aku dihatimu
Masih adakah cintamu untukku
Masih berartikah diriku dihidupmu
Ataukah hanya angin lalu
Mengertilah..disinipun aku menanti
Untuk satu cinta yang sejati
Aku yang setia menunggumu hingga akhir masaku
                          Maryati sinagha

Rabu, 15 Desember 2010


                     Luka-ku
Detik ini adalah menjemput waktu. Detik ini, detik kemarin, detik berikutnya adalah penggalan-penggalan waktu yang terus melaju. Dalam detik-detik berlalu itulah aku terlihat tak mampu memahamimu. Aku tak mampu menjaga perasaanmu. Ketika aku berbuat khilaf, aku hanya meminta maaf. Maaf, maaf, dan maaf, padahal kau amat terluka. Aku hanya meminta maaf tanpa mengubah sikapku. Kau begitu bijak memahami sifatku; menerima maaf, maaf, dan maafku.
Aku menyalahkan diriku. Aku memang banyak berbuat khilaf. Aku seolah-olah tak pernah memahami dan terus memaksakan kehendak. Aku terus berulah, berulah, dan berulah sehingga kau pun merasa muak,,,
Dalam sikapku tentu memiliki persepsi dimatamu. Aku kadang melakukan sikap yang biasa-biasa saja di mataku, tapi kau memandangnya lain. Ya, itulah persepsi dan hak kamu memberikan persepsi atas sikapku. Hal yang kuingat, kau sering kali melontarkan kalimat, ”Aku ingin berdiri dengan tangan dan kakiku sendiri.” Dan, kukatakan berulang-ulang, kau kuasa untuk berdiri dengan tangan dan kakimu. Amat sangat bisa, amat sangat bisa,,,
Aku katakan dalam hati, “Hidup memang penuh tanda tanya.” Bukan maksudku mengelak telah berbuat salah terhadapmu, aku hanya menegaskan ada persepsi keliru. Jika tempo dulu aku berbuat salah, aku akui kesalahanku. Aku bersalah…aku memang bersalah,,,
Tentang ulahku di akhir bulan lalu, aku tak pernah membayangkan jika akan membuatmu muntah. Aku tak membayangkan itu. Apakah kau mengira aku berusaha menguak rahasia pribadimu? Aku katakan dengan tegas tak ada maksudku menguak rahasia pribadimu. Ya, untuk apa? Aku justru membayangkan yang lain ketika menyadari dirimu sebagai sosok cerdas di mataku. Maksudku ternyata tak selaras persepsimu. Ya, maafkan aku,,,
Tidak hanya itu kesalahanku yang terus kau sembunyikan di balik hatimu. Kau menampakkan secuil kesalahanku. Padahal amat banyak kesalahanku yang membuatmu harus terluka. Sekali lagi, aku seolah-olah tak pernah memahamimu dan terus berulah di matamu. Aku mengucap terima kasih atas keberanianmu menunjukkan kemuakanmu dihadapanku. Meskipun jika mau, kau akan terus muak dengan sikapku. Ya, kau begitu bijak memahamiku sehingga tak mau menyakitiku dengan kemuakanmu.
Aku pun merasa jika kau tak begitu nyaman dengan kehadiranku. Entah salah atau tidak, aku merasakan itu. Aku akhirnya berpikir, apa yang membuatmu bertahan? Dari dulu kau memang muak denganku. Maafkan aku tak bisa mencurahkan apa pun seperti yang kau harapkan. Kau berharap bisa lebih baik, tapi kau tak mendapatkan apa pun kecuali lara yang terus terpendam. Di hadapanku, kau tampak ceria dan tidak ada apa-apa. Tapi, hatimu memendam kemuakan,,,
Jika dikatakan hidup adalah perjalanan, hidup juga membentangkan momentum-momentum. Maaf, sekali lagi maaf, aku katakan keputusanmu tak begitu tepat. Aku bisa memahami jika kau katakan, “aku ingin berdiri dengan tangan dan kaki sendiri.“ Silakan katakan berulang-ulang…aku sepertinya tak kuasa lagi menggoreskan kalimat-kalimat ini,,,
Aku bangga, aku selalu memberikan apresiasi terhadapmu. Jika kau menganggap diriku marah, aku katakan tidak. Aku tak bisa marah karena aku tak berhak marah kepada siapa pun. Ya, karena aku dilahirkan sebagai manusia,,,
Kaulah yang lebih berhak marah. Yang jelas, maafkan aku atas apa yang kutuliskan ini, mungkin aku terlalu berlebihan. Mungkin aku akan bertanya pada “pena yang bergoyang” atas kebodohanku. Aku memang amat terlalu bodoh untuk memahami hidup,,,
Sekali lagi, maafkan aku tak bisa memberikanmu yang terbaik, maafkan aku tak bisa mencurahkan apa pun seperti yang kau harapkan. Ya, maafkan aku atas segenap kesalahan yang terus berulang-ulang aku lakukan. Pada sebuah luka, maafkan aku,,,

                 Aku terpaksa berdiam diri…….
            Selesaikan masalah ne secara baik2…..
   Aku  g memohon ma abg lagi masih mau baikan to ga……
    Lo abg ingin kita pisah,,tinggalkan aku dengan senyuman….
    Mungkin abg da bosan atas tingkah-ku selama ne…..
Ku minta abg yang ngambil keputusan……….

           PENGEN KEHADIRANMU DALAM HIDUPKU
                SALAM MAAF-KU UNTUK MU

Selasa, 14 Desember 2010


 Terimalah maafku

sudah hapus saja air matamu
karena ku sudah tak melihat lagi
dirimu larut dalam kesedihan
yang tiada bertepi
Aku tak mau melihatmu begini
karena kesalahan yang aku perbuat
dan aku akan berjanji sepenuh hati
akan buatmu tersenyum lagi
terimlah maafku
yang ku berikan tulus dari hatiku ini
takkan ku ulangi lagi
semua salahku padamu
yang kini membuat dirimu bersedih hati
takkan lagi takkan lagi pujaanku

       maafku yang ke 2x untuk mu(marya sinagha)
                    to
              bb andre-ku



    Untuk mu……

kadang ku ingin menangis….
aku ingin berlari….
tinggalkn semua….
tinggalkan semua belenggu yang ad di hati ne….
sesak d hati ne…
tak bisa bernafas menghirup udara….
ku letih dengan semua ne….
ke jenuh dengan hidup ne…
aku harus bagaimana?
aku harus seperti apa?
aku harus dimana?
untukku sandarkan rsa letih dan jenuh ne….
                   maryati

Minggu, 12 Desember 2010

malam yang kurindukan


Ku tak tahu
Apa yang kurasakan saat ini
Semua yang ada dihatiku
Terasa sulit untuk dimengerti
Aku hanya tahu dan yakin
Bahwa aku merindukan kehadiranmu
Mungkin kerinduanku sepekat gelap malam
Dimana bulan enggan menampakkan senyumannya
Rinduku sedingin udara malam ini
Dimana angin berhembus kencang
Menampar daun-daun
Yang telah begitu lemah
Rinduku semerdu hujan
Yang melantunkan bait lagu kerinduan
Ataukah rinduku sepanjang
detik......Menit......Jam.....
Serta hari yang kulewati tanpa hadirmu
Bagiku waktu enggan bergerak
Sehingga semenit layaknya terlalu lama
Kau jauh Aku hanya mampu melihat bayangmu
Kala mataku terbuka maupun terpejam
Kau tak ada didekatku apalagi didekapku
Ingin ku rengkuh kau dalam pelukan.......
Ingin ku bersandar dibahumu.......
Kala ku merasa lelah dengan jalanku
Ingin ku berbaring dipangkuanmu.........
Tanpamu kini aku seakan lumpuh
Aku tak mampu melihat dunia
Kala mataku terbuka ..........
Aku tak mampu melihat impian
Kala mataku terpejam
"Kasih"
Ku harap hadirlah untukku
Aku ingin belaianmu menyatu
Dengan semilirnya angin malam
Aku ingin pelukanmu menyatu ...
Dengan gelapnya malam
Aku ingin kecupanmu menyatu.....
Dengan sentuhan air hujan
Aku ingin lembutnya rayuanmu menyatu...........
Dengan lirihnya bisik dedaunan



                                                         By : mariaty sinaga